Showing posts with label Kependudukan. Show all posts
Showing posts with label Kependudukan. Show all posts

Friday, 17 June 2016

Teknologi Memengaruhi Pertumbuhan Penduduk dan Lingkungan


Tanpa kita sadari, dari tahun ke tahun perkembangan teknologi di dunia semakin pesat. Perkembangan ini tidak dapat kita hindari lagi. Perkembangan teknologi ini sangat berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu yang terkena dampaknya adalah pertumbuhan penduduk. Pertama-tama saya juga kurang mengerti bagaimana bisa teknologi memengaruhi pertumbuhan penduduk. Tapi ternyata setelah saya menggali informasi lebih dalam lagi, ternyata info tersebut sangat masuk akal dan akhirnya saya mengerti. Jadi bagaimana bisa teknologi memengaruhi pertumbuhan penduduk? Berikut jawabannya

  • Teknologi memengaruhi tingkat kelahiran.

Perkembangan teknologi tidak hanya berfokus pada perkembangan teknologi gadget seperti smartphone dan lain sebagainya, tetapi juga pada bidang kesehatan. Salah satu contohnya adalah teknologi USG. Dengan teknologi ini, kita dapat mengetahui perkembangan dan kondisi janin di dalam perut sehingga kita dapat mempersiapkan segala sesuatu agar kelahiran berjalan lancar dan bayi lahir sehat.

  • Teknologi memengaruhi kualitas penduduk dan tingkat kematian.

Perkembangan teknologi terutama dalam bidang kesehatan juga merupakan salah satu faktor  dalam pertumbuhan penduduk. Dengan banyaknya teknologi kesehatan yang semakin canggih maka penduduk yang sakit akan dapat dengan mudah disembuhkan. Bahkan penduduk yang sebenarnya harus mati masih dapat ditolong dan masih dapat hidup. Contoh teknologinya adalah teknologi cuci darah. Dengan teknologi semacam ini, tingkat kematian akan berkurang sehingga pertumbuhan penduduk semakin menjadi-jadi.

Tapi, teknologi tidak semua seperti itu, ada juga teknologi yang justru dapat mengurangi penduduk. Contohnya adalah gadget dan lain sebagainya. Dengan gadget, orang-orang akan menjadi malas beraktivitas sehingga tubuhnya semakin lama semakin rusak. Selain itu, pancaran sinar UV yang dihasilkan dari monitor gadget juga akan memengaruhi kesehatan penggunanya. Salah satu penyakit yang dapat ditimbulkannya adalah penyakit kanker. Dan menurut info yang saya baca, kanker belum ada obatnya, sekalipun ada, obat itu juga akan tetap membunuh si penderita kanker tersebut. Akhirnya terjadi kematian.

Sebagai tambahan, perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan rasa peduli lingkungan patinya juga akan berdampak buruk bagi lingkungan. Contohnya saja teknologi kendaraan saat ini. Kendaraan saat ini sangat berbahaya bagi lingkungan karena menghasilkan polusi. Selain itu, industri-industri yang menggunakan mesin mesin juga kebanyakan menghasilkan polusi, baik polusi udara, air, maupun tanah. Dampak selanjutnya adalah alam menjadi rusak dan akhirnya berdampak kepada manusia itu sendiri terutama kesehatannya. Pertumbuhan manusia jadi terhambat dan angka kelahiran dan kematian semakin menurun karena kualitas kesehatan manusia semakin buruk. Jadi, siapa yang salah? Teknologi atau manusia? Jawabnya sudah pasti, yaitu manusia yang tidak bijak menggunakan teknologi


Kesimpulan


Teknologi sangat berpengaruh pada pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya menggunakan dan memanfaat perkembangan teknologi dengan bijak dan sebaik mungkin, karena dampak buruk yang ditimbulkan akibat pemanfaatan yang tidak bijak sangatlah besar.
Read More

Tuesday, 7 June 2016

Bonus Demografi, Berkah atau Musibah?

Bonus Demografi, Berkah atau Musibah?

Menurut kabar yang saya baca dari Internet, Indonesia akan mendapat suatu bonus dalam aspek kependudukan, bonus itu adalah bonus demografi. Bonus tersebut akan didapatkan Indonesia sekitar tahun 2020-2030. Untuk sebelumnya, apa itu bonus demografi?

Tabel Bonus Demografi Indonesia
Dijelaskan oleh Bapak Dr. Abidinsyah Siregar Deputi Adpin BKKBN Pusat, bonus demografi adalah suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15 tahun - 64 tahun) di suatu wilayah atau negara lebih besar dari jumlah penduduk usia tidak produktif (kurang dari 14 tahun dan diatas 65 tahun). Artinya, proporsi penduduk yang produktif (yang bekerja/angkatan kerja) lebih besar dari yang tidak produktif (tidak bekerja), sehingga tingkat kebergantungan penduduk tidak produktif (anak-anak dan lansia) kepada penduduk yang produktif menjadi sangat rendah, karena minimal setiap keluarga bisa mengayomi/membantu keluarganya sendiri.

Jadi dengan kata lain bonus demografi adalah ledakan penduduk usia kerja atau produktif dalam struktur umur masyarakat di suatu wilayah atau negara. Dan sekarang, Indonesia sedang dan akan mendapat bonus tersebut (Lihat grafik diatas). Bonus tersebut tidak datang secara cuma-cuma, karena nyatanya bonus ini didapatkan Indonesia berkat keberhasilan program KB menurunkan tingkat fertilitas atau kelahiran dan meningkatnya kualitas kesehatan serta suksesnya program-program pembangunan lainnya.

Meski begitu, bonus demografi itu ibarat pedang bermata dua. Bonus demografi ini dapat menjadi berkah dan juga dapat menjadi musibah. Lalu, apa berkah dari bonus demografi ini serta musibah yang bisa saja didapat dari bonus demografi ini?

Dampak Positif


Jika dilogika, dengan adanya bonus demografi maka jumlah penduduk usia produktif (usia yang dapat bekerja) itu lebih banyak dari penduduk usia non produktif (berdasarkan pengertian bonus demografi itu sendiri). Tentu saja keadaan ini menjadi suatu berkah tersendiri bagi negara karena dengan melimpahnya jumlah penduduk usia produktif, lapangan pekerjaan sehingga pembangunan nasional menjadi lebih berkembang. Jika semua usia produktif bekerja, maka kesejahteraan ekonomi masyarakat tentunya juga akan meningkat sehingga secara tidak langsung juga akan memacu pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, banyak juga investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia karena melihat banyaknya potensi usia produktif yang terdapat di Indonesia. Dengan adanya investor asing tersebut, tentunya akan menambah devisa negara serta akan membuat lebih mengenal teknologi dari investor tersebut.

Bonus demografi ini jika dimanfaatkan dengan baik juga akan memiliki dampak baik bagi lingkungan. Usia produktif yang dilatih dan dibina pastinya akan mampu untuk mengolah SDA (Sumber Daya Alam) dengan baik dan bijak dengan tujuan untuk meningkatkan pembangunan nasional serta kesejahteraan rakyat. Dengan itu SDA juga akan terkelola dengan baik sehingga tidak cepat punah (terutama SDA tak terbarukan).

Dampak Negatif


Namun, bonus demografi ini juga memiliki sisi buruk seperti yang telah disinggung di atas tadi. Bonus demografi ini bisa menjadi musibah dan berakibat fatal jika tidak dipersiapkan dengan baik kedatangannya sehingga dapat menjadi beban negara. Ingat, if you fail to plan, that same with you plan to fail (jika kamu gagal dalam merencanakan sama saja berarti kamu merencanakan untuk gagal). Dampak buruknya bisa dalam aspek sosial-ekonomi dan lingkungan.

Salah satu masalah yang terpampang nyata dan saya rasa masih belum cukup dipersiapkan adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk mencapai penduduk usia kerja yang diperkirakan jumlahnya mencapai 70 % dari total penduduk Indonesia di tahun 2020-2030. Kalau pun lapangan kerjanya ada, pertanyaan berikutnya yang muncul mampukah penduduk usia produktif yang melimpah itu bersaing di dunia kerja dan pasar internasional? Semua bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) itu sendiri.

Peran BKKBN Dalam Memberikan Solusi Menghadapi Bonus Demografi


BkkbN


BKKBN yang merupakan salah satu lembaga di Indonesia yang mengurus masalah kependudukan pastinya memiliki peran penting dalam menghadapi bonus demografi ini. Apa sajakah itu?


  • Pembinaan Generasi Muda.
BKKBN berperan dalam pembinaan generasi muda yang nantinya akan menjadi usia produktif dengan program GENRE (Generasi Berencana). Dengan program ini diharapkan generasi muda akan memiliki kualitas yang baik.



  • Mengatasi Masalah Kependudukan.
BKKBN juga bekerja sama dengan organisasi lain untuk mengatasi berbagai masalah dalam kependudukan di Indonesia guna mempersiapkan bonus demografi tersebut.


  • Program KB (Keluarga Berencana).

Melalui program KB, jumlah penduduk menjadi lebih mudah diatur dan dapat lebih terencana. Dengan jumlah penduduk terencana maka negara lebih mudah melakukan investasi di bidang kualitas penduduk dan pembangunan ekonomi secara lebih berkelanjutan.




  • Pembangunan Keluarga Kerangka Konsep Pembangunan Keluarga.
Konsep ini bertujuan agar keluarga menjadi lebih paham tentang Pembangunan Keluarga dan dapat menjadi mitra BKKBN. Untuk itu perlu sosialisasi yang baik agar masyarakat lebih paham dan mendukung lebih maksimal dengan menjadi mitra aktif dalam setiap program yang digulirkan oleh BKKBN sehingga diharapkan implementasi program yang sudah bagus ini bisa dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan.

 
Kesimpulan

Bonus demografi ini dapat menjadi berkah maupun musibah, tergantung bagaimana kita mempersiapkannya. Oleh karena itu, kita sebagai warga Indonesia yang baik seharusnya sudah mempersiapkan diri dari sekarang, terutama bagi para generasi muda Indonesia.

Read More

Saturday, 4 June 2016

Penduduk Makin Banyak, Apa Saja Dampaknya?

Langsung saja tanpa basa-basi. Dari tahun ke tahun, penduduk Indonesia semakin bertambah drastis. Penduduk Indonesia mengalami pertambahan dari 139 juta orang (1979) menjadi 151 juta orang (1983. Kemudian pada tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia menurut data statistik nasional (BPS) mencapai 237.641.913 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sekitar 119.630.913 dan penduduk perempuan 118.010.413 jiwa.  Hal ini sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia, yaitu peringkat 4 di bawah China, India, dan Amerika Serikat. 

Namun, jangan berbangga dulu. Dengan 'kelebihan' ini, Indonesia justru mengalami berbagai masalah. Masalah-masalah tersebut antara lain:
  • Persebaran penduduk yang tidak merata yang menyebabkan kepadatan penduduk di suatu daerah, sedangkan di daerah lain tidak.
  • Untuk waktu ini, usia non produktif lebih mendominasi dibanding usia produktif.
  • Semakin meningkat jumlah penduduk, namun jumlah lapangan kerja belum bertambah.
  • Dll.

Pertambahan penduduk Indonesia ini juga berdampak pada beberapa aspek kehidupan. Namun, yang dibahas kali ini hanyalah dampak pada aspek teknologi dan aspek lingkungan. Apa sajakah dampaknya? 

Dampak Aspek Teknologi


Sejalan dengan pengelolaan sumber alam secara lestari penting untuk bisa mengembangkan gaya dan pola hidup yang serasi dengan kemampuan daya dukung alam. Dalam hubungan ini maka pengembangan teknologi yang serasi dengan keperluan menyerap tenaga kerja yang banyak sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. Namun masalahnya adalah dunia internasional mengembangkan teknologi yang hemat tenaga kerja, sesuai dengan kondisi negara maju yang banyak melahirkan inovasi dan teknologi baru. Sebaliknya negara-negara berkembang seperti Indonesia kurang memiliki modal dan kesempatan menyebar-luaskan teknologi yang lebih serasi dengan lingkungan tanah airnya.

Banyaknya penduduk Indonesia selain akan menyebabkan dampak di atas juga akan mendatangkan banyak investor asing, terutama investor teknologi semacam gadget dan sebagainya. Mereka menanamkan investasi di Indonesia karena melimpahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Hal ini akan menguntungkan Indonesia karena dengan ini rakyat menjadi lebih mengenal teknologi dan tidak ketinggalan zaman. Selain itu negara juga bisa memperoleh pendapatan yang nantinya dapat digunakan untuk menyejahterakan rakyat (Itu pun jika tidak digerogoti tikus-tikus berdasi).


Dampak Aspek Lingkungan



Tanpa basa basi, pertumbuhan penduduk juga pasti juga berpengaruh pada aspek lingkungan. Dampak buruknya adalah alam menjadi rusak. Kok bisa? Logikanya, tiap orang pasti memiliki suatu kebutuhan. Kebutuhan itu dapat berupa kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Tiap kebutuhan pasti membutuhkan suatu sumber daya alam sebagai bahan baku atau materialnya, contohnya rumah. Tiap rumah pasti memerlukan lahan. Ketika lahan kosong habis, maka manusia yang kurang bijak pasti akan membuat lahan kosong lagi, salah satunya dengan penggundulan hutan, atau dengan perubahan fungsi lahan. Jika tiap orang berpikir seperti itu, lalu bagaimana nasib alam kita ini? Itu baru contoh satu SDA saja, padahal masih banyak SDA yang terpengaruh oleh pertambahan penduduk, contohnya minyak bumi, air, dll.

Pertambahan penduduk juga dapat berdampak baik pada lingkungan, dengan syarat penduduk mempunyai kesadaran terhadap lingkungan. Jika penduduk sadar, maka mereka tidak dengan mudah merusak alam, mereka pasti akan berpikir dua kali atau lebih dahulu sebelum melakukannya. Tapi tentunya sulit membuat penduduk peduli lingkungan, karena pada zaman modern ini, semua ingin serba mudah dan praktis.

Solusi


Lalu, apakah tidak ada solusi terhadap masalah ini? Tentu ada!

  • Mensosialisasikan program KB.

Program KB yang dijalankan BKKBN sangat berpengaruh terhadap masalah ini. Kok bisa? Kita tahu bahwa penyebab masalah-masalah di atas adalah pertambahan penduduk yang terus meningkat. Salah satu penyebabnya adalah keluarga dengan anak lebih dari 2 dan juga pernikahan dini. Oleh karena itu, dengan menggalakkan dan menerapkan program KB pada masyarakat, masalah tersebut kemungkinan dapat teratasi.

  • Menciptakan masyarakat yang inovatif dan gak GapTek!
Dengan menciptakan masyarakat seperti ini, masyarakat kita tidak akan kalah bersaing dengan negara lain, meskipun negara kita masih negara berkembang.

  • Melakukan upaya-upaya pelestarian lingkungan.
Upaya terakhir yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan melakukan upaya pelestarian lingkungan kepada masyarakat. Salah satu upaya yang penting adalah menanamkan rasa peduli lingkungan kepada masyarakat. Penanaman rasa ini sangat penting karena saat ini banyak sekali masyarakat yang tidak punya rasa peduli lingkungan. Setelah itu, baru melakukan upaya lain, seperti reboisasi dan lainnya.
Read More

Jadikan GENRE Sebagai Senjata Penyelamat Lingkungan!


Mari Berkarya Selagi Muda
Sebelum Tua Termakan Usia
Alam Rusak Karena Siapa
Tak lain ulah dari Manusia

Dewasa ini, berbagai bencana alam semakin banyak terjadi. Salah satu contohnya adalah banjir. Salah satu daerah yang tidak pernah 'absen' kebanjiran tiap tahunnya adalah Jakarta. Seakan-akan banjir ini adalah 'hadiah' tiap tahun untuk Jakarta. Banjir ini sangat merugikan masyarakat Jakarta. Tidak hanya banjir, tetapi juga ada bencana lain dan tidak hanya di Jakarta saja, tapi juga di daerah lain pula. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan bencana ini? Salah Siapa?
Sumber : http://news.unair.ac.id/
Beberapa bencana terjadi akibat kerusakan alam. Contohnya saja bencana banjir. Bencana banjir lebih dominan disebabkan oleh kurangnya pohon-pohon (terutama di hutan) yang dapat menyerap air, berkurangnya tanah sebagai tempat penyerapan air hujan, serta irigasi yang buruk. Dan tahukah siapa 'dalang' dibalik hal-hal ini?  Betul sekali, jawabannya adalah manusia. Kok bisa? Tentu bisa.
 
BKKBN mencatat bahwa pada akhir tahun 2015 lalu penduduk Indonesia telah mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Dengan jumlah yang terus bertambah, daya dukung dan daya tampung lingkungan akan semakin menurun apabila tidak diimbangi dengan SDM yang berkualitas dan pembangunan yang arif dan berwawasan lingkungan.

Bertambahnya populasi penduduk Indonesia secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi lingkungan dan alam. Semakin banyak manusia, semakin banyak kebutuhannya. Akhirnya, manusia melakukan eksploitasi SDA di daerahnya yang menyebabkan kerusakan alam. Contoh nyata adalah terjadinya penebangan pohon-pohon di hutan-hutan untuk membuat perumahan-perumahan dan gedung-gedung tanpa adanya reboisasi. Selain itu, tidak adanya kesadaran masyarakat terhadap lingkungannya juga merupakan salah satu penyebab kerusakan alam. Contoh kecilnya adalah perilaku membuang sampah sembarangan. Akhirnya, kerusakan alam tersebut berlanjut menjadi bencana alam yang nantinya merugikan manusia itu sendiri. Dan parahnya lagi, kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia berlangsung secara terus menerus dan makin lama makin besar pula kerusakan yang ditimbulkannya. Lalu sekarang, apakah kita sebagai pemuda dapat mengatasi hal ini? Jawabannya adalah bisa. Caranya?


BKKBN dan GENRE

Sumber : Google Image

BKKBN telah membuat program yang bernama GENRE. GENRE sendiri merupakan kependekan dari Generasi Berencana. GENRE ini dikembangkan oleh BKKBN dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Jadi, dalam program ini, setiap remaja/pemuda yang belum menikah akan diberi bimbingan agar dapat berkarya selagi muda sehingga secara tidak langsung para remaja tidak akan menikah di usia dini.


GENRE Sebagai Senjata Penyelamat Lingkungan


Lho, terus apa hubungannya dengan pelestarian lingkungan? Begini, dengan program ini, para remaja diharapkan akan menghindari yang namanya nikah usia dini. Sedangkan kita tahu bahwa penyebab kerusakan lingkungan dewasa ini lebih dominan disebabkan oleh adanya kepadatan penduduk yang ditambah dengan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Salah satu penyebab kepadatan penduduk adalah nikah di usia dini dan banyaknya keluarga yang memiliki banyak anak. Dengan program ini, remaja diberi bimbingan mengenai Keluarga Berencana (2 anak cukup). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk yang merupakan faktor kepadatan penduduk dapat dikendalikan. Selain itu, dalam program ini juga dapat ditanamkan kepada para remaja tentang pentingnya pelestarian lingkungan karena kita tahu sendiri bahwa kita tidak dapat hidup tanpa lingkungan. Jadi, sekarang sudah jelas apa yang dapat kita lakukan sebagai remaja Indonesia untuk melestarikan lingkungan.


Kesimpulan


Kesimpulannya sudah jelas, ayo ikut GENRE! Kita jadikan GENRE sebagai senjata penyelamat lingkungan! Dengan GENRE, masa depan remaja dan lingkungan jadi lebih baik. Salam GENRE!
Read More